NEWS UPDATE :

Tentang Tektonik dan Geologi Struktur Indonesia

Tektonik Global merupakan suatu konsep tektonik lempeng yang merupakan gabungan dari banyak kejadian geologi yang menjelaskan adanya bukti-bukti pergerakan lempeng – lempeng tektonik. Bukti-bukti tersebut, dijelaskan dalam beberapa teori mengenai tektonik lempeng. Salah satu teori tektonik lempeng adalah teori apungan benua (continental drift), yang menyatakan bahwa benua-benua yang sekarang ada, dulu adalah satu bentang muka yang bergerak menjauh sehingga melepaskan benua-benua tersebut dari inti bumi. Dan kekuatan untuk pergerakan tersebut adalah dari arus konveksi yang ada di dalam mantel bumi.  Jadi pada 200 juta tahun yang lalu, semua benua masih berkumpul menjadi satu, sekitar 160 juta tahun yang lalu, pangea terpisah menjadi dua benua besar, yaitu Laurasia dan Gondwanaland. Setelah sekian lama, kedua benua tersebut terpecah-pecah menjadi beberapa benua dengan bentuk yang terlihat sekarang. Saat ini terdapat tujuh buah lempeng tektonik yang besar dan beberapa lempeng yang kecil. Lempeng yang besar meliputi lempeng Pasifik, Lempeng North American, Lempeng Eurasia, Lempeng Antartika, Lempeng Australia dan lempeng Afrika.
Lempeng – lempeng tektonik ini dapat bergerak relative terhadap suatu tempat yang tetap pada lapisan mantel dan pergerakan relative antara satu lempeng tektonik dengan lempeng lainnya, baik divergen, konvergen dan transform. Pergerakan lempeng-lempeng tektonik ini disebabkan karena adanya aliran konveksi. Lempeng India-Australia bergerak ke utara, lempeng Pasifik ke Barat sedangkan Eurasia relative diam.

Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relative litosfer samudra dan karakter astenosfer yang relative lemah. Pelepasan panas dari mantel telah didapati sebagai sumber asli dari energy yang menggerakkan lempeng tektonik. Pada waktu pembentukannya di mid oceanic ridge, litosfer samudra pada mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer sekitarnya, tetapi kepadatan ini meningkat  seiring dengan penuaan karena terjadinya pendinginan dan penebalan. Besarnya kepadatan astenosfer dibawahnya memungkinkan terjadinya penyusupan mantel yang dalam di zona subduksi sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan pergerakan-pergerakan lempeng.  Kelemahan astenosfer memungkinkan lempengan untuk bergerak secara mudah menuju kearah zona subduksi meskipun subduksi dipercaya sebagai kekuatan terkuat penggerak pergerakan lempeng.
Teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya pergerakan lempeng-lempeng tektonik ini adalah teori seafloor spreading yang menjelaskan bahwa daerah di punggung tengah samudera terjadi pembumbungan arus konveksi (upwelling) dan sekaligus membentuk kerak benua dan kerak samudra. Kerak samudra yang baru terbentuk tersebut selanjutnya bergerak secara lateral menjauh dari pusat erupsi. Di daerah palung, kerak samudra selanjutnya kembali tenggelam atau masuk kedalam mantel sejalan dengan tenggelamnya arus konveksi (down welling). Arus konveksi bergerak ke mantel atas melalui bagian tengah dari kerak benua dan lama-kelamaan membentuk zona pemekaran antar benua.
Pada dasarnya, geologi struktur Indonesia merupakan suatu usaha untuk mengenal pola struktur dari kepulauan Indonesia, dan mencoba untuk menganalisa sejarah pembentukannya yang dilandasi oleh teori tektonik lempeng.
Indonesia termasuk sebagai salah satu wilayah yang mempunyai tatanan geologi yang rumit. Hal ini dikarenakan letak Indonesia yang terdapat diantara tiga pertemuan lempeng besar yaitu: Hindia-Australia di selatan, Pasifik disebelah barat dan lempeng Asia d sebelah utara. Ketiga lempeng tersebut bergeser dari sumbernya di pematang-pematang tengah samudera (mid oceanic ridge), dengan arah dan kecepatan yang berubah-ubah, satu terhadap lainnya sejak Mesozoik hingga kini.  Sebagai akibat dari gerak lempeng tersebut yang rumit, maka sifat dari wilayah Indonesia dicirikan oleh perubahan-perubahan yang menerus dari susunan lempeng, jalur-jalur tumbukan, sesar “transform” dan busur-busur yang bergeser.
eia, ada yang menarik nih,,ternyata yah,, di pulau jawa, kenapa bentuk pulau jawa (di jawa tengahnya) seakan masuk kedalam atay menyempit di utara dan selatannya, itu ternyata karena ada akibat dari proses tektonik lho. jadi ceritanya teh ada trend yang menarik jadi seperti ada pertemuan trend dari barat dan timur. terdapat dua strike slip fault yang besar yang mengangkat jawa tengah bagian utara dan menenggelamkan bagian selatan. gitu singkatnya.
pokoknya bentuk-bentuk pulau-pulau di Indonesia yang menarik lainnya itu, semua karena adanya proses tektonik.
Jadi bingung mau nulis apalagi, ia tulis jawaban tugas tentang geologi struktur Indonesia aja deh ya..
#  tektonik asia tenggara
Tektonik di Asia Tenggara dikontrol oleh interaksi empat lempeng utama, yaitu lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan, lempeng Filipina dan lempeng Pasifik di sebelah timur, dan lempeng Eurasia di sebelah barat laut.
*Pada awal Cretaceous, lempeng Indo-Australia bergerak ke utara dan lempeng Pasifik bergerak ke barat yang menabrak (subduksi) masuk ke bawah lempeng Eurasia. Tumbukan mikro daratan lolotoi dengan dataran sunda bagian tenggara menghasilkan konplek batuan melange dengan pola arah timur laut memotong laut jawa saat ini. pada cretaceous akhir, terbentuk basin yang teregang secara lokal dan dipengaruhi suatu komponen wrench yang meluas secara lateral pada tumbukan tersebut. pada saat ini juga tarikan di Gondwana makin intensif yang menyebabkan Jalur subduksi barat makin ke barat sehingga menyebabkan daratan sunda semakin luas.
*Pada masa Paleo-eocene belakang busur terbentuk suatu rangkaian struktur halus yang berarah timur barat.  dan mikroplate sunda mengalami rotasi ke kanan (searah jarum jam) sehingga sebagian besar laut China Selatan semakin tertutup. Pada eocene tengah, lempeng india menumbuk lempeng Eurasia, mulai terbentuk pegunungan Himalaya dan sesar-sesar mendatar di Asia Tenggara. Pada saat bersamaan posisi jalur subduksi bergeser ke arah Samudera.
*Pada oligosen awal, kecepatan gerak lempeng mengalami penurunan, yang mengakibatkan terjadinya penurunan muka air laut dan cekungan muka busur semakin melebar sehingga laut china melebar seiring dengan adanya rotasi searah jarum jam. sedangkan pada oligosen akhir, kecepatan gerak lempeng meningkat lagi yang mengakibatkan terjadinya sistem tegasan ekstensional dan kompresional. pengangkatan (uplift) bukit barisan terjadi akibat tektonik kompresional yang disertai pula oleh adanya desakan aktivitas vulkanisme secara besar-besaran.
*Pada awal pertengahan miosen, beberapa bagian zona ini mengalami pengangkatan menghasilkan suatu bentukan yang disebut dengan central high. pada miosen akhir, terjadi kompresi utara-selatan yang disebabkan pengangkatan dan pembalikan di sepanjang patahan dari half graben sehingga membentuk struktur antiklin muda. pengangkatan berlanjut sampai saat ini dengan terbentuknya rangkaian pulau yang memotong dari timur ke barat.
Seiring berjalannya waktu, zona subduksi diyakini mengalami perubahan arah, pada masa cretaceous awal dan eocene mengarah ke selatan dan timur dan saat ini subduksi berjalan paralel timur barat menembus zona wrench yang aktif pada periode neogen.

#  tektonik di Asia Tenggara begitu rumit?
Tektonik di Asia Tenggara begitu rumit karena dikontrol oleh interaksi empat lempeng utama, yaitu lempeng Indo-Australia di sebelah Selatan, Lempeng Filipina&Lempeng Pasifik di sebelah timur, dan lempeng Eurasia di sebelah barat laut. keempat lempeng utama tersebut merupakan lempeng yang sangat aktif bergerak yang mengakibatkan kawasan ini menjadi kawasan tektonik aktif sehingga banyak menimbulkan peristiwa tektonik atau peristiwa geologi sebelum dan sesudah lempeng India menabrak lempeng asia sampai sekarang.  dan juga karena kawasan ini merupakan kawasan busur kepulauan yang aktif secara tektonik serta diantara pulau-pulaunya merupakan cekungan laut dalam.

#  tektonik ekstrusi?
Konsep tektonik ekstrusi berhubungan dengan hukum Newton: aksi-reaksi. yaitu, Ada aksi benturan yang kompresif maka ada aksi reaksi pelepasannya yang sifatnya ekstensi/ strike-slip. jadi, gerak lepas (ekstrusi) ini untuk mengkompensasi penumpukan massa akibat benturan.
Arah pelepasan blok selalu menjauhi pusat-pusat kompresi, hanya saja tidak harus tegak lurus terhadap jalur kompresinya tetapi bisa sejajar relatif terhadap jalur kompresi, tetapi menjauhi, bisa tegak lurus relatif terhadap jalur kompresi tetapi menjauh, bisa miring relatif terhadap jalur kompresi tetapi menjauhi. pengatur utamanya adalah bila ada free ocenanic edge disekitar wilayah kompresi benturan itu, kesitulah tektonik ekstrusi akan mengarah.
Konsep escape tectonics (extrusion tectonics) yang dikemukakan oleh Molnar dan Tapponnier (1975), Tapponnier dkk. (1982), dan Burke dan Sengör (1986) dicoba diterapkan di Indonesia (Satyana, 2006).
Escape tectonics adalah konsep tektonik yang membicarakan terjadinya gerak lateral suatu blok geologi menjauhi suatu wilayah benturan di benua dan bergerak menuju wilayah bebas di samudra. Karena itu, peneyebutan konsep tektonik ini lebih sesuai bila disebut : post-collisional tectonic escape (gerak lateral menjauh pascabenturan).  Eksplorasi hidrokarbon di wilayah Indonesia membantu menunjukkan bukti-bukti bahwa telah  terjadi escape tectonics di Indonesia. Secara singkat bisa dikatakan, zone benturan dicirikan oleh jalur sesar-lipatan yang ketat, sementara hasil escape tectonics dicirikan oleh sesar-sesar mendatar regional, sesar-sesar normal, dan retakan-retakan atau pemekaran kerak Bumi.
Terdapat lima peristiwa benturan di Indonesia yang membentuk atau mempengaruhi sejarah tektonik Indonesia sepanjang Kenozoikum. Benturan pertama adalah benturan India ke Eurasia yang terjadi mulai 50 atau 45 Ma (Eosen awal-tengah). Benturan ini telah menghasilkan Jalur Lipatan dan Sesar Pegunungan Himalaya yang juga merupakan suture Indus. Benturan ini segera diikuti oleh gerakan lateral Daratan Sunda (Sundaland) ke arah tenggara, sebagai wujud escape tectonics, diakomodasi dan dimanifestasikan oleh sesar-sesar mendatar besar di wilayah Indocina dan Daratan Sunda, pembukaan Laut Cina Selatan, pembentukan cekungan-cekungan sedimen di Malaya, Indocina, dan Sumatra, dan saat ini oleh pembukaan Laut Andaman. Sesar-sesar ini terbentuk di atas dan menggiatkan kembali garis-garis suture akresi batuandasar berumur Mesozoikum di Daratan Sunda. Sesar-sesar besar hasil escape tectonics ini adalah : Sesar Red River-Sabah, Sesar Tonle-Sap-Mekong (Mae Ping),  Sesar Three Pagoda-Malaya-Natuna-Lupar-Adang, dan Sesar Sumatra.
Benturan kedua terjadi pada sekitar 25 Ma (Oligosen akhir) ketika sebuah busur kepulauan samudra yang terbangun di tepi selatan Lempeng Laut Filipina berbenturan dengan tepi utara Benua Australia di tengah Papua sekarang. Benturan ini menghasilkan jalur lipatan dan sesar Pegunungan Tengah Papua dan segera diikuti oleh escape tectonics berupa sesar-sesar mendatar besar dan pembentukan cekungan akibat runtuhan (collapse) di depan zone benturan. Sesar-sesar besar tersebut adalah Sesar Sorong-Yapen (bagian awalnya), Sesar Waipoga, Sesar Gauttier, dan Sesar Apauwar-Nawa. Pembukaan daerah cekungan (basinal area) Papua Utara (termasuk di dalamnya Cekungan Waipoga, Waropen, Biak, Jayapura) dan Cekungan Akimeugah di selatan zone benturan Pegunungan Tengah Papua, terbentuk akibat runtuhan untuk mengkompensasi tinggian akibat benturan. Sesar-sesar mendatar yang terbentuk juga mempengaruhi pembentukan cekungan-cekungan ini.
Benturan ketiga adalah benturan antara mikro-kontinen Kepala Burung dengan badan Papua pada sekitar 10 Ma (Miosen akhir). Jalur lipatan dan sesar Lengguru menandai benturan ini. Sesar-sesar mendatar yang menjauh dari zone benturan ini seperti Tarera-Aiduna, Sorong, Waipoga, dan Ransiki menunjukkan escape tectonics pascabenturan. Cekungan Bintuni yang terletak di sebelah barat Jalur Lengguru merupakan foreland basin yang terbentuk sebagai akibat  post-collision extensional structure.
Benturan keempat terjadi dari 11-5 Ma (Miosen akhir-Pliosen paling awal) ketika mikro-kontinen Buton-Tukang Besi dan Banggai-Sula membentur ofiolit Sulawesi Timur. Kedua mikro-kontinen ini terlepas dari Kepala Burung Papua dan bergerak ke barat oleh Sesar Sorong. Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar Buton di selatan Sulawesi Timur dan Jalur Batui di daerah benturan Banggai dan Sulawesi Timur. Kedua benturan ini telah diikuti tectonic escapes pascabenturan dalam bentuk-bentuk  rotasi lengan-lengan Sulawesi, pembentukan sesar-sesar menndatar besar Palu-Koro, Kolaka, Lawanopo, Hamilton, Matano, dan Balantak, dan pembukaan Teluk Bone. Gerak sesar-sesar mendatar ini di beberapa tempat telah membuka cekungan-cekungan koyakan  (pull-apart basin) akibat mekanisme trans-tensional seperti danau-danau Poso, Matano, Towuti juga  Depresi Palu.
Benturan terakhir mulai terjadi pada sekitar 3 Ma (pertengahan-Pliosen) ketika tepi utara Benua Australia berbenturan dengan busur Kepulauan Banda. Benturan ini telah membentuk jalur lipatan dan sesar foreland sepanjang Timor, Tanimbar sampai Seram. Di wilaya Seram, jalur ini juga banyak dipengaruhi oleh benturan busur Seram dengan mikro-kontinen Kepala Burung. Pembukaan lateral juga terjadi mengikuti benturan busur-benua ini, pembukaan ini adalah manifestasi tectonic escape. Sesar-sesar mendatar besar terbentuk hampir sejajar dengan orientasi Pulau Timor. Pengalihan tempat mikro-kontinen Sumba dan pembentukan serta pembukaan Cekungan Weber, Sawu, dan Laut Banda dapat berhubungan dengan escape tectonics pascabenturan ini melalui mekanisme extensional structure atau collapse yang mengikuti  arc-continent collision.
Kasus-kasus di Indonesia ini menunjukkan bahwa tectonic escapes adalah gejala dan proses yang penting dalam evolusi wilayah konvergen seperti Indonesia. Konsep escape tectonics memberikan kontribusi penting untuk pemahaman bagaimana benua terbangun dan  terpotong-potong.

#Pola Tektonik Indonesia
Tektonik di Indonesia terbagi menjadi dua karena terdapat adanya perbedaan lempeng penyusun. Indonesia bagian timur tersusun oleh lempeng-lempeng mikro kecuali daerah Nusa Tenggara, Irian Utara Timur dan Sulawesi Utara yang berbenturan dengan lempeng makro. Sedangkan Indonesia bagian barat merupakan daerah interaksi antara lempeng makro. Karena perbedaan tersebut maka pola atau tatanan tektoniknya pun akan berbeda pula. Pada wilayah Indonesia bagian barat, tatanan tektoniknya lebih sederhana daripada tatanan tektonik wilayah Indonesia bagian timur yang lebih rumit.

 #Sundaland
Sundaland merupakan sebuah massa daratan (landmass) di Asia Tenggara yang timbul sebagai massa daratan diatas muka air laut pada kala Plistosen. Hasil penelitian geologi dapat menunjukkan jejak sejarah paparan ini. muka air laut naik dan turun sesuai dengan periode deglasisasi dan glasiasi. Pada 170.000 tahun yang lalu, muka laut 200 meter lebih rendah daripada yang sekarang. Itulah saat eksistensi daratan sunda. muka laut seperti sekarang dicapainya pada 1000 taun lampau.
Konsep modern menyatakan bahwa Sundaland bukan satu massa benua yang koheren, tetapi merupakan gabungan (amalgamasi) dari banyak benua-mikro atau terrane yang berasal dari Gondwana pada sebutan Mesozoikum. Benua-benua kecil ini terpisah dari Gondwana, hanyut ke utara, kemudian saling berbentur satu sama lain dan bergabung membentuk Sundaland.
Ketika pada kala Holosen terjadi deglasiasi, saat lapisan-lapisan es mencair maka tenggelamlah Daratan SUnda (Sundaland) oleh transgresi marin, dan kini kita mengenalnya sebagai Paparan Sunda, sebuah laut dangkal hasil penenggelaman Daratan Sunda. Wilayah Paparan Sunda dan Sundaland ini terletak diantara Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Malaka.


#Struktur Geologi di Wilayah Indonesia Bagian Barat didominasi oleh Strike-Slip
Indonesia bagian barat merupakan pencerminan dari interaksi antara lempeng samudera hindia-australia yang bergerak ke utara, dengan lempeng asia (lempeng mikro sunda).
Pada eosen awal, pergerakan Australia-Sundaland menyebabkan terbentuknya subduksi sepanjang barat tepi Sundaland, dibawah P.Sumba dan Sulawesi Barat dan mungkin menerus ke utara. Batas antara lempeng Australia-Sundaland pada bagian selatan Jawa merupakan zona strike-slip sedangkan selatan Sumatera berupa zona strike-slip tangensional.
Hal ini dapat dijelaskan melalui konsep escape tectonic atau tektonik ekstrusi. Tektonik ekstrusi merupakan collision-related strike slip motion dimana sebagian kerak kontinen atau busur kepulauan bergerak karena buoyancy nya menuju kerak samudera (palung) setelah terjadinya collision continent vs continent atau continent vs island arc. Regional strike-slip fault mengakomodasi pergerakan ini. ciri lain tectonic ekstrusi adalah juga pembentukan rift basins akibat penipisan kerak dan localized compressional mpuntains dan related foreland-through basins.
Berdasarkan konsep tektonik ekstrusi tersebut dari benua asia, perkembangan tektonik dari wilayah asia tenggara (termasuk Indonesia bagian Barat), sangat dipengaruhi oleh gerak-gerak “fragmen benua asia” (Cina Timur dan Indo China) yang melejit ke timur dan tenggara sebagai akibat daripada tumbukan antara kerak benua India dan Asia. Dengan gerak-gerak fragmen benua Asia ke tenggara dan timur, maka mekanisme ini akan diiimbangi oleh gerak rotasi dari IndoChina dan Paparan Sunda searah dengan putaran jarum jam melalui strike slip fault sinistral. Pengamatan di lapangan justru menunjukkan gerak dextral. Hal ini hanya dapat diterangkan apabila Indochina dan Paparan Sunda telah mengalami rotasi kearah yang berlawanan dengan gerak jarum jam. Terhambatnya gerak rotasi kea rah jarum jam itu ada hubungannya dengan menyentuhnya Benua Australia dengan Indonesia dalam interaksi lempeng Samudera Hindia-Australia dengan lempeng Asia.

#Trench di Indonesia bagian Barat dinamakan juga sebagai oblique subduction

Tectonic setting daerah Indonesia bagian barat didominasi oleh pergerakan lempeng Indo-Australia yang menunjam dibawah lempeng Sunda. Lempeng Indo-Australia menunjam dari palung Sunda yang berada di Samudera Indonesia. Di sebelah selatan pulau Jawa lempeng Indo-Australia menunjam pada posisi tegak lurus sedangkan disebelah barat Sumatera, lempeng Indo Australia menunjam lempeng Sunda pada posisi oblique. Maka dari itu, trench (palung) di Inonesia bagian barat dapat dikatakan juga sebagai oblique subduction karena trench tersebut merupakan hasil dari subduksi yang berbentuk/berarah oblique.

#Paparan Sahul

Paparan Sahul merupakan lempeng bumi yang bergerak dari kawasan Australesia (Benua Australia) dan berada di sisi timur Garis Weber. Paparan Sahul merupakan bagian dari lempeng landas kontinen benua Sahul (Benua Australia-Papua) yang terletak di lepas pantai utara Australia dan lautan selatan pulau Papua. Paparan sahul membentang dari Australia Utara, meliputi laut Timor menyambung ke Timur di laut Arafura yang menyambung dengan pualu Papua. Kepulauan Aru menon jol diatas paparan Sahul. Paparan Sahul juga mencakup Paparan Rowley yang terletak disisi Samudera Hindia di Barat Laut Australia membentang hingga tanjung di Barat LAut Australia.


#Struktur Geologi di Wilayah Indonesia Bagian TImur lebih rumit dibandingkan wilayah Indonesia di bagian barat

Tatanan tektonik Indonesia di bagian barat menunjukkan pola tektonik yang relative lebih sederhana dibandingkan Indonesia bagian timur. Kesederhanaan tatanan tektonik tersebut dipengaruhi oleh keberadaan Paparan Sunda yang relative stabil. Pergerakan dinamis mencolok hanya terjadi pada perputaran Kalimantan serta peregangan selat makassar. Hal ini terlihat pada pola sebaran jalur subduksi Indonesia Barat. Sementara keberadaan benua mikro yang dinamis karena dipisahkan oleh banyak system sasar sangat mempengaruhi bentuk kerumitan tektonik Indonesia bagian timur. Berdasarkan konsep ini pula, Indonesia terbentuk tujuh jalur orogenesa, yaitu: jalur orogenesa Sunda, Barisan, Taulud, Sulawesi, Banda, Malanisia, dan Dayak. Kondisi struktur geologi wilayah Indonesia timur sangat rumit juga karena disebabkan Indonesia timur merupakan tempat terbentuknya system busur kepulauan yang unuk dengan asosiasi palung samudera, zona akresi, busur gunung api, dan cekungan busur belakang. Selain itu yang membuat rumit juga adalah busur-busur kepulauan nya yang dibatasi oleh lautan dengan kedalaman mencapai ribuan meter dengan palung-palung dalam yang terdapat diantara busur lengkung yang tajam dan beda relief yang sangat tajam.
Secara tektonis, wilayah Indonesia Timur merupakan lokasi pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng Pasifik yang bergerak dari arah timur ke barat, Lempeng Australia yang bergerak dari arah tenggara ke barat laut dan Lempeng Eurasia yang bergerak dari arah barat laut ke tenggara. Pertumbukan ketiga lempeng ini menghasilkan pola tektonik rumit yang menyebar dari Pulau Sulawesi, Maluku sampai Irian Jaya. Pergerakan Lempeng Pasifik dari timur ke arah barat mengakibatkan terbentuknya Patahan Sorong yang berupa patahan geser memanjang sepanjang pantai utara Irian Jaya, utara Serui dan Biak, bercabang di wilayah Kepala Burung, Irian Jaya kemudian bercabang lagi di sekitar Kepulauan Banggai dan Sula di Maluku.
Semua hal ini berpengaruh pada kondisi struktur geologinya.

#Pulau di wilayah Indonesia bagian timur relative berukuran lebih kecil dibandingkan di wilayah Indonesia bagian barat
Menurut teori tektonik lempeng, wilayah Indonesia bagian Timur diketahui sebagai zona interaksi antara lempeng Eurasia – Hindia, Australia, dan Pasifik. Lempeng-lempeng ini memperagakan zona-zona penunjaman aktif dengan arah gerak agak membujur dibagian utara, seperti misalnya palung-palung di Filipina, Halmahera dan Minahasa serta Timor di selatan yang agak melintang. Wilayah Indonesia timur juga tersusun oleh lempeng-lempeng mikro yang sifatnya lemah terhadap akumulasi energy dan mudah melepaskan energy dalam wujud gempa.
Pada bagian utara wilayah Indonesia timur, lempeng pasifik menabrak sisi barat dan selatan Indonesia. Tekanan dahsyat karena pergerakan tiga lempeng besar bumi: Lempeng Eurasia, Lempeng Hindia-Australia, dan lempeng Pasifik ini menyebabkan interior lempeng bumi dari kepulauan Indonesia ini terpecah-pecah menjadi bagian-bagian kecil kerak bumi yang bergerak antara satu terhadap lainnya yang dibatasi oleh patahan-patahan aktif. Sedangkan wilayah Indonesia bagian barat, daerahnya relative stabil dibandingkan wilayah Indonesia bagian timur, maka dari itu pulau-pulaunya berukuran lebih besar daripada yang berada di wilayah bagian Indonesia timur.
Share On:
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

- Harap Komentar Sesuai dg Judul Bacaan
- Tidak diperbolehkan Untuk Mempromosikan Barang ato Berjualan
- Bagi Komentar Yg Menautkan Link Aktif di anggap Spam
Selamat Berkomentar dn Salam persahabatan

SahabatQ

Like Facebokk Friends

ProfilQ

VERDA CANTIKA.PSH

Masih Sekolah di SMPN 1 ploso Jombang dr keluarga 3 bersaudara :adik Rindu masih kelas 4 SDN Kedungrejo dn adik Livi masih kecil umur 2,5 th kami keluarga bahagia yg saling menyayangi dn mengasihi sekian Trimksh Lihat Lengkap ProfilQ