NEWS UPDATE :
Tampilkan postingan dengan label Tokoh dan Pahlawan Nasional Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh dan Pahlawan Nasional Indonesia. Tampilkan semua postingan

Daftar Pahlawan Nasional Republik Indonesia



Daftar Nama Pahlawan Nasional Republik Indonesia
Daftar Pahlawan Nasional Republik Indonesia (RI)

Pahlawan berasal dari kata “pahalawan” orang yang telah berbuat pahala, berbuat kebajikan, orang yg menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dl membela kebenaran,  pejuang yg gagah berani. Dengan demikian pahlawan.

Pahlawan Nasional Republik Indonesia merupakan orang yang sangat besar jasanya dalam keberadaan negara Republik Indonesia mulai dari perintis kemerdekaan, pejuang kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan RI

Sebagai warga negara yang baik sepatutnya dapat mengenal, mengenang, menghormati, dan menghargai jasa para pahlawannya, seperti yang sering kita dengar “ Bangsa yang besar adala bangsa yang dapat menghargai jasa pahlawannya” nnnnnn

Semoga jasa para Pahlawan Nasional Republik Indonesia  mendapat balasan kebaikan yang berlipat ganda dari Allah swt (amiiiiiiin)


No. Nama Tanggal Penetapan Dasar Penetapan
1 Kiai Haji Abdul Halim 6 November 2008 Keppres No. 41/TK/2008
2 Jendral Besar Abdul Harris Nasution 6 November 2002 Keppres No. 73/TK/2002
3 Abdul Kadir 13 November 1999 Keppres No. 114/TK/1999
4 Abdul Muis 30 Agustus 1959 Keppres No. 218 Tahun 1959
5 Marsekal Muda Abdulrachman Saleh 9 November 1974 Keppres No. 71/TK/1974
6 Kiai Haji Achmad Rifai 5 November 2004 Keppres No. 89/TK/2004
7 Prof. Mr. Achmad Subardjo 9 November 2009 Keppres No. 58/TK/2009
8 Haji Adam Malik 6 November 1998 Keppres No. 107/TK/1998
9 Mayor Jenderal Adenan Kapau Gani 9 November 2007 Keppres No. 66/TK/2007
10 Marsekal Muda Agustinus Adisucipto 9 November 1974 Keppres No. 71/TK/1974
11 Sultan Ageng Tirtayasa 01 Agustus 1970 Keppres No. 45/TK/1970
12 Sultan Agung Hanyokrokusumo 3 November 1975 Keppres No. 106/TK/1975
13 Haji Agus Salim 27 Desember 1961 Keppres No. 657 Tahun 1961
14 Kiai Haji Ahmad Dahlan 27 Desember 1961 Keppres No. 657 Tahun 1961
15 Jenderal Ahmad Yani 05 Oktober 1965 Keppres No. 111/KOTI/1965
16 Mgr. Albertus Sugiyapranata S.J. 26 Juli 1963 Keppres No. 152 Tahun 1963
17 Raja Ali Haji 5 November 2004 Keppres No. 89/TK/2004
18 Alimin 26 Juni 1964 Keppres No. 163 Tahun 1964
19 Tengku Amir Hamzah 3 November 1975 Keppres No. 106/TK/1975
20 Andi Abdullah Bau Massepe 7 November 2005 Keppres No. 82/TK/2005
21 Andi Jemma 6 November 2002 Keppres No. 73/TK/2002
22 Andi Mappanyukki 5 November 2004 Keppres No. 89/TK/2004
23 Haji Andi Sultan Daeng Raja 3 November 2006 Keppres No. 85/TK/2006
24 Pangeran Antasari 27 Maret 1968 Keppres No. 06/TK/1968
25 Arie Frederik Lasut 20 Mei 1969 Keppres No. 12/TK/1969
26 Raden Mas Tumenggung Ario Suryo 17 November 1964 Keppres No. 294 Tahun 1964
27 Bagindo Azizchan 7 November 2005 Keppres No. 82/TK/2005
28 Jenderal Basuki Rahmat 9 November 1969 Keppres No. 10/TK/1969
29 Bung Tomo 6 November 2008 Keppres No. 41/TK/2008
30 Teungku Cik di Tiro 6 November 1973 Keppres No. 87/TK/1973
31 Cilik Riwut 6 November 1998 Keppres No. 108/TK/1998
32 dr. Cipto Mangunkusumo 02 Mei 1964 Keppres No. 109 Tahun 1964
33 Cut Nyak Dhien 02 Mei 1964 Keppres No. 106 Tahun 1964
34 Cut Nyak Meutia 02 Mei 1964 Keppres No. 106 Tahun 1964
35 Dewi Sartika 01 Februari 1966 Keppres No. 252 Tahun 1966
36 Pangeran Diponegoro 6 November 1973 Keppres No. 87/TK/1973
37 Ernest Douwes Dekker (Setiabudi) 9 November 1961 Keppres No. 590 Tahun 1961
38 Kiai Haji Fakhruddin 26 Juni 1964 Keppres No. 163 Tahun 1964
39 Fatmawati 4 November 2000 Keppres No. 118/TK/2000
40 Ferdinand Lumbantobing 17 November 1962 Keppres No. 361 Tahun 1962
41 Raja Haji Fisabilillah 11 Agustus 1997 Keppres No. 72/TK/1997
42 Frans Kaisiepo 14 September 1993 Keppres No. 77/TK/1993
43 Gatot Mangkupraja 5 November 2004 Keppres No. 89/TK/2004
44 Jenderal Gatot Subroto 18 Juni 1962 Keppres No. 222 Tahun 1962
45 Haji Abdul Malik Karim Amrullah 7 November 2011 Keppres No. 113/TK/2011
46 Halim Perdanakusuma 09 Agustus 1975 Keppres No. 63/TK/1975
47 Sri Sultan Hamengkubuwana I 3 November 2006 Keppres No. 85/TK/2006
48 Sri Sultan Hamengkubuwana IX 30 Juli 1990 Keppres No. 53/TK/1990
49 Kopral Harun bin Said (Thohir) 17 Oktober 1968 Keppres No. 50/TK/1968
50 Letnan Jenderal Haryono 05 Oktober 1965 Keppres No. 111/KOTI/1965
51 Brigadir Jenderal Hasan Basry 3 November 2001 Keppres No. 110/TK/2001
52 Sultan Hasanuddin 6 November 1973 Keppres No. 87/TK/1973
53 Kyai Haji Mohammad Hasyim Asyari 17 November 1964 Keppres No. 294 Tahun 1964
54 Prof. Dr. Hazairin 13 Agustus 1999 Keppres No. 74/TK/1999
55 Prof. Dr. Ir. Herman Johannes 9 November 2009 Keppres No. 58/TK/2009
56 I Gusti Ketut Jelantik 15 September 1993 Keppres No. 77/TK/1993
57 I Gusti Ketut Pudja 7 November 2011 Keppres No. 113/TK/2011
58 Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai 09 Agustus 1975 Keppres No. 63/TK/1975
59 Dr. Ida Anak Agung Gde Agung 9 November 2007 Keppres No. 66/TK/2007
60 Idham Chalid 7 November 2011 Keppres No. 113/TK/2011
61 Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono 7 November 2011 Keppres No. 113/TK/2011
62 H. Ilyas Yakoub 13 Agustus 1999 Keppres No. 74/TK/1999
63 Tuanku Imam Bonjol 6 November 1973 Keppres No. 87/TK/1973
64 Sultan Iskandar Muda 14 September 1993 Keppres No. 77/TK/1993
65 Ismail Marzuki 5 November 2004 Keppres No. 89/TK/2004
66 Marsekal Madya Iswahyudi 09 Agustus 1975 Keppres No. 63/TK/1975
67 Prof. Dr. Iwa Kusumasumantri 6 November 2002 Keppres No. 73/TK/2002
68 Izaak Huru Doko 3 November 2006 Keppres No. 85/TK/2006
69 Laksamana Muda TNI (Purn.) Jahja Daniel Dharma 9 November 2009 Keppres No. 58/TK/2009
70 Gusti Pangeran Harya Jatikusumo 6 November 2002 Keppres No. 73/TK/2002
71 Dr Johanes Leimena 11 November 2010 Keppres No. 52/TK/2010
72 Johannes Abraham Dimara 11 November 2010 Keppres No. 52/TK/2010
73 Ir. Raden Juanda Kartawijaya 6 November 1963 Keppres No. 244 Tahun 1963
74 AIP Karel Satsuit Tubun 05 Oktober 1965 Keppres No. 114/KOTI/1965
75 Raden Ajeng Kartini 02 Mei 1964 Keppres No. 108 Tahun 1964
76 Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo 19 Oktober 1965 Keppres No. 118/KOTI/1965
77 Ki Hajar Dewantara 28 Agustus 1959 Keppres No. 305 Tahun 1959
78 Ki Sarmidi Mangunsarkoro 7 November 2011 Keppres No. 113/TK/2011
79 Kiras Bangun (Garamata) 7 November 2005 Keppres No. 82/TK/2005
80 Dr. Kusumah Atmaja S.H. 14 Mei 1965 Keppres No. 124 Tahun 1965
81 La Madukelleng 6 November 1998 Keppres No. 109/TK/1998
82 Sultan Mahmud Badaruddin II 29 Oktober 1984 Keppres No. 63/TK/1984
83 Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I 17 Agustus 1988 Keppres No. 48/TK/1988
84 Maria Walanda Maramis 20 Mei 1969 Keppres No. 12/TK/1969
85 Laksamana Laut Martadinata 07 Oktober 1966 Keppres No. 220 Tahun 1966
86 Martha Christina Tiahahu 20 Mei 1969 Keppres No. 12/TK/1969
87 Marthen Indey 14 September 1993 Keppres No. 77/TK/1993
88 Kiai Haji Mas Mansur 26 Juni 1964 Keppres No. 163 tahun 1964
89 Maskoen Soemadiredja 5 November 2004 Keppres No. 89/TK/TH 2004
90 Mayor Jenderal TNI Prof. Dr. Moestopo 9 November 2007 Keppres No. 66/TK/2007
91 dr. Moewardi 04 Agustus 1964 Keppres No. 190 Tahun 1964
92 Drs. Mohammad Hatta 23 Oktober 1986 Keppres No. 81/TK/1986
93 Mohammad Husni Thamrin 28 Juli 1960 Keppres No. 175 Tahun 1960
94 Prof. Mohammad Yamin S.H. 6 November 1973 Keppres No. 88/TK/1973
95 Muhammad Isa Anshary 3 November 2006 Keppres No. 85/TK/2006
96 Muhammad Natsir 6 November 2008 Keppres No. 41/TK/2008
97 Nani Wartabone 6 November 2003 Keppres No. 85/TK/TH 2003
98 Kiayi Haji Noer Alie 3 November 2006 Keppres No. 85/TK/2006
99 Nuku Muhammad Amiruddin 07 Agustus 1995 Keppres No. 71/TK/1995
100 Nya' Abbas Akup Keppres No. 69/TK/2007
101 Nyai Ahmad Dahlan 22 September 1971 Keppres No. 42/TK/1971
102 Nyi Ageng Serang 13 Desember 1974 Keppres No. 84/TK/1974
103 Oemar Said Tjokroaminoto 9 November 1961 Keppres No. 590 Tahun 1961
104 Opu Daeng Risadju 3 November 2006 Keppres No. 85/TK/2006
105 Oto Iskandar di Nata 6 November 1973 Keppres No. 88/TK/1973
106 Pajonga Daeng Ngalie Karaeng Polongbangkeng 3 November 2006 Keppres No. 85/TK/2006
107 Sri Susuhunan Pakubuwana VI 17 November 1964 Keppres No. 294 Tahun 1964
108 Sri Susuhunan Pakubuwana X 7 November 2011 Keppres No. 113/TK/2011
109 Mayor Jenderal Pandjaitan 05 Oktober 1965 Keppres No. 111/KOTI/1965
110 Kapitan Pattimura 6 November 1973 Keppres No. 87/TK/1973
111 Kapten Pierre Tendean 05 Oktober 1965 Keppres No. 111/KOTI/1965
112 Pong Tiku 6 November 2002 Keppres No. 73/TK/2002
113 Radin Inten II 23 Oktober 1986 Keppres No. 81/TK/1986
114 Ranggong Daeng Romo 3 November 2001 Keppres No. 109/TK/2001
115 Hajjah Rangkayo Rasuna Said 13 Desember 1974 Keppres No. 84/TK/1974
116 Rizal Nurdin 9 November 2005 Keppres No. 83/TK/2005
117 Robert Wolter Monginsidi 6 November 1973 Keppres No. 88/TK/1973
118 Dr. Saharjo S.H. 29 November 1963 Keppres No. 245 Tahun 1963
119 Dr. G.S.S.J. Ratulangi 9 November 1961 Keppres No. 590 Tahun 1961
120 Kiai Haji Samanhudi 9 November 1961 Keppres No. 590 Tahun 1961
121 Slamet Riyadi 9 November 2007 Keppres No. 66/TK/2007
122 Silas Papare 14 September 1993 Keppres No. 77/TK/1993
123 Sisingamangaraja XII 9 November 1961 Keppres No. 590 Tahun 1961
124 Letnan Jenderal Siswondo Parman 05 Oktober 1965 Keppres No. 111/KOTI/1965
125 Siti Hartinah 30 Juli 1996 Keppres No. 60/TK/1996
126 Soekarno 23 Oktober 1986 Keppres No. 81/TK/1986
127 Jenderal Soedirman 10 Desember 1964 Keppres No. 314 Tahun 1964
128 Kolonel Sugiono 19 Oktober 1965 Keppres No. 118/Koti/1965
129 Prof. Dr. Suharso 6 November 1973 Keppres No. 88/TK/1973
130 Sukarjo Wiryopranoto 29 Oktober 1962 Keppres No. 342 Tahun 1962
131 Supeno 13 Juli 1970 Keppres No. 39/TK/1970
132 Prof. Dr. Soepomo 14 Mei 1965 Keppres No. 123 Tahun 1965
133 Letnan Jenderal Suprapto 05 Oktober 1965 Keppres No. 111/KOTI/1965
134 Suprijadi 09 Agustus 1975 Keppres No. 63/TK/1975
135 Suroso R.P 23 Oktober 1986 Keppres No. 81/TK/1986
136 Raden Mas Soerjopranoto 20 November 1959 Keppres No. 310 Tahun 1959
137 Sutan Syahrir 09 April 1966 Keppres No. 76 Tahun 1966 
138 dr. Soetomo 27 Desember 1961 Keppres No. 657 Tahun 1961
139 Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo 05 Oktober 1965 Keppres No. 111/KOTI/1965
140 Syafruddin Prawiranegara 7 November 2011 Keppres No. 113/TK/2011
141 Sultan Syarif Kasim II 6 November 1998 Keppres No. 109/TK/1998
142 Syech Yusuf Tajul Khalwati 07 Agustus 1995 Keppres No. 71/TK/1995
143 Tan Malaka 28 Maret 1963 Keppres No. 53 tahun 1963
144 Tuanku Tambusai 07 Agustus 1995 Keppres No. 71/TK/1995
145 Teuku Mohammad Hasan 3 November 2006 Keppres No. 85/TK/2006
146 Teuku Nyak Arief 9 November 1974 Keppres No. 71/TK/1974
147 Teuku Umar 6 November 1973 Keppres No. 87/TK/1973
148 Sultan Thaha Sjaifuddin 24 Oktober 1977 Keppres No. 79/TK/1977
149 Raden Mas Tirto Adhi Soerjo 3 November 2006 Keppres No. 85/TK/2006
150 Untung Suropati 3 November 1975 Keppres No. 106/TK/1975
151 Letnan Jenderal Urip Sumoharjo 10 Desember 1964 Keppres No. 314 Tahun 1964
152 Usman Janatin 17 Oktober 1968 Keppres No. 50/TK/1968
153 Wage Rudolf Supratman 20 Mei 1971 Keppres No. 16/TK/1971
154 Wahid Hasyim 24 Agustus 1964 Keppres No. 206 Tahun 1964
155 Wahidin Sudirohusodo 6 November 1973 Keppres No. 88/TK/1973
156 Wilhelmus Zakaria Johannes 27 Maret 1968 Keppres No. 6/TK/1968
157 Yos Sudarso 6 November 1973 Keppres No. 88/TK/1973
158 Kiai Haji Zainal Mustafa 6 November 1972 Keppres No. 64/TK/1972
159 Kiai Haji Zainul Arifin 04 Maret 1963 Keppres No. 35 Tahun 1963
Sumber : http://www.kemsos.go.id/

Mengenang Perjuangan RA. Kartini


Biodata RA. Kartini
Nama
Raden Ajeng Kartini
Usia
25 tahun
Tmpt/Tgl Lahir
Jepara Jateng, 21 April 1879
Meninggal
Rembang, 17 September 1904. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang
Nama Ayah
Raden Mas Adipati Ario Sosoningrat, Bupati Jepara (masih keturunan Hamengkubuwono IV)
Nama Ibu
MA Ngasirah (pasangan Hj Siti Aminah+H Mardiono guru agama di Telukawur Jepara)
anak ke-
5 dari 11 bersaudara (kandung dan tiri)
Pendidikan
ELS (Europese Lagere School) setingkat SD
Menikah
tanggal 12 November 1903
Suami
R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat (1903)
Nama anak
Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904
Support/motivator
Kakak Kartini, Sosrokartono dengan memberikan buku dan koran untuk bahan bacaan
Penghargaan
Hari kelahiran Kartini tanggal 21 April ditetapkan sebagai “Hari Kartini” diperingati setiap tahun sebagai hari besar nasional
Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional

Bacaan Kartini hingga umur 20 tahun
-    koran De Locomotief terbitan Semarang, yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga
-    Langganan leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.
-    Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie.
-    Buku Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901
-    De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus.
-    Karya-karya Van Eeden yang bermutu tinggi
-    Karya-karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja,
-    roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner,
-    Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Pemikiran RA. Kartini
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikiran tentang kondisi sosial terutama tentang kondisi perempuan pribumi saat itu antara lain:

Keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.

Kartini menulis ide dan cita-citanya, dengan kata-kata : Zelf ontwikkeling dan Zelf onderricht, Zelf vertrouwen, Zelf werkzaamheid dan Solidariteit (pengembangan diri, Otodidak, kepercayaan diri, kemampuan diri dan Solidaritas),  yang semaunya berdasarkan atas Religieusiteit (Ketuhanan), Wijsheid (kebijaksanaan) Schoonheid (Keindahan), Humanitarianisme (Kemausiaan),  Nasionalisme (Cinta tanah air).

Mengharap memperoleh pertolongan dari dunia luar atas penderitaan perempuan Indonesia akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. (Surat-surat yang ditujukab kepada Estelle "Stella" Zeehandelaar)

Mempertanyakan mengapa “agama” menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." (Kritik terhadap agamanya)

Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. yang menurut pandangannya hanya menimbulkan penderitaan kaum perempuan.

Kungkungan adat menjadi kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Indonesia yang lebih maju. (keinginan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda atau sekolah kedokteran di Betawi atau sekolah guru di Betawi,

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-surat yang dikirimkan kepada Nyonya Abendanon

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus, karena Kartini segera akan menikah. (surat ditujukan kepada Nyonya Abendanon)

Menjelang pernikahannya, impian ingin melanjutkan study tidak dipikirkan lagi, ia meninggalkan  ego mementingkan dirinya, beralih dengan pandangan bahwa pernikahan akan membawa keuntungan untuk mewujudkan angan-angannya, memajukan permpuan-perempuan pribumi dengan cara mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan.

Setelah menikah mendirikan sekolah wanita tempatnya di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Pengaruh RA. Kartini
Surat-surat Kartini sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi Indonesia.

Menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.

Berdirinya Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Surat-surat RA. Kartini
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

Kumpulan surat-surat Kartini akhirnya pada 1911 diterbitkan menjadi sebuah buku yang berjudul : “Door Duisternis tot Licht” yang artinya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Penerbitan surat-surat RA. Kartini menjadi sebuah buku di Indonesia
Tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, terjemahan oleh Empat Saudara.

Tahun 1938, diterbitkan lagi buku dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru.

Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda

Penghargaan
Hari kelahiran Kartini tanggal 21 April ditetapkan sebagai “Hari Kartini” diperingati setiap tahun sebagai hari besar nasional

Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional

Nama Karini diabadikan menjadi nama jalan di Indonesia dan di Belanda:
Di Utrecht, Jalan R.A. Kartini atau Kartinistraat merupakan salah satu jalan utama, berbentuk 'U' yang ukurannya lebih besar dibanding jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh perjuangan lainnya seperti Augusto Sandino, Steve Biko, Che Guevara, Agostinho Neto.

Di Venlo, Belanda Selatan, R.A. Kartinistraat berbentuk 'O' di kawasan Hagerhof, di sekitarnya terdapat nama-nama jalan tokoh wanita Anne Frank dan Mathilde Wibaut.

Di Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, jalan Raden Adjeng Kartini ditulis lengkap. Di sekitarnya adalah nama-nama wanita dari seluruh dunia yang punya kontribusi dalam sejarah: Rosa Luxemburg, Nilda Pinto, Isabella Richaards.

Di Haarlem jalan Kartini berdekatan dengan jalan Mohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke jalan Chris Soumokil presiden kedua Republik Maluku Selatan.

Sumber : wikipedia indonesia dan dari berbagai sumber lain

SahabatQ

Like Facebokk Friends

ProfilQ

VERDA CANTIKA.PSH

Masih Sekolah di SMPN 1 ploso Jombang dr keluarga 3 bersaudara :adik Rindu masih kelas 4 SDN Kedungrejo dn adik Livi masih kecil umur 2,5 th kami keluarga bahagia yg saling menyayangi dn mengasihi sekian Trimksh Lihat Lengkap ProfilQ